Kamis, 18 Oktober 2018

Limfoma non-hodgkin


Limfoma Non-Hodgkin
1.      Anatomi dan Fisiologi
            Sistem limfatik adalah bagian penting sistem kekebalan tubuh yang memainkan peran kunci dalam pertahanan alamiah tubuh melawan infeksi dan kanker. Cairan limfatik adalah cairan putih mirip susu yang mengandung protein, lemak dan limfosit (sel darah putih) yang semuanya mengalir ke seluruh tubuh melalui pembuluh limfatik.
Yang membentuk sistem limfatik dan cairan yang mengisis pembuluh ini disebut limfe. Komponen Sistem Limfatik antara lain :
a.       Pembuluh Limfe.
b.      Kelenjar Limfe (nodus limfe).
c.       Limpa.
d.      Tymus.
e.       Sumsum Tulang
·         Anatomi fisiologi sistem limfatik.
a.       Pembuluh limfe.
     Pembuluh limfe merupakan jalinan halus kapiler yang sangat kecil atau sebagai rongga limfe di dalam jaringan berbagai organ dalam vili usus terdapat pembuluh limfe khusus yang disebut lakteal yang dijumpai dalam vili usus.Fisiologi kelenjar limfe hampir sama dengan komposisi kimia plasma darah dan mengandung sejumlah besar limfosit yang mengalir sepanjang pembuluh limfe untuk masuk ke dalam pembuluh darah. Pembuluh limfe yang mengaliri usus disebut lacteal karena bila lemak diabsorpsi dari usus sebagian besar lemak melewati pembuluh .Sepanjang pergerakan limfe sebagian mengalami tarikan oleh tekanan negatif di dalam dada, sebagian lagi didorong oleh kontraksi otot.
     Fungsi pembuluh limfe mengembalikan cairan dan protein dari jaringan ke dalam sirkulasi darah, mengankut limfosit dari kelenjar limfe ke sirkulasi darah, membawa lemak yang sudah dibuat emulasi dari usus ke sirkulasi darah.Susunan limfe yang melaksanakan ini ialah saluran lakteal, menyaring dan menghancurkan mikroorganisme, menghasilkan zat antibodi untuk melindungi terhadap kelanjutan infeksi.
b.      Kelenjar limfe (nodus limfe)
     Kelenjar ini berbentuk bulat lonjong dengan ukuran kira-kira 10 – 25 mm. Limfe disebut juga getah bening, merupakan cairan yang susunan isinya hampir sama dengan plasma darah dan cairan jaringan. Bedanya ialah dalam cairan limfe banyak mengandung sel darah limfosit, tidak terdapat karbon dioksida, dan mengandung sedikit oksigen.Cairan limfe yang berasal dari usus banyak mengandung zat lemak. Cairan limfe ini dibentuk atau berasal dari  cairan jaringan melalui difusi atau filtrasi ke dalam kapiler – kapler limfe dan seterusnya akan masuk ke dalam peredaran darah melalui vena.
Fungsinya yaitu menyaring cairan limfe dari benda asing, pembentukan Limfosit membentuk antibodi, pembuangan bakteri, membantu reasoprbsi lemak.
c.       Limpa.
     Limpa merupakan sebuah organ yang terletak di sebelah kiri abdomen di daerah hipogastrium kiri bawah iga ke-9,-10,-11.Limpa berdekatan pada fundus dan permukaan luarnya menyentuh diafragma.Jalinan struktur jaringan ikat di antara jalinan itu membentuk isi limpa/ pulpa yang terdiri dari jaringan limpa dan sejumlah besar sel – sel darah.
     Fungsi limpa sebagai gudang darah seperti hati, limpa banyak mengandung kapiler–kapiler darah, dengan demikian banyak arah yang mengalir dalam limpa, sebagai pabrik sel darah, limfa dapat memproduksi leukosit dan eritrosit terutama limfosit, sebagai tempat pengahancur eritrosit, karena di dala limpa terdapat jaringan retikulum endotel maka limpa tersebut dapat mengancurkan eritrosit sehingga hemoglobin dapat dipisahkan dari zat besinya, mengasilkan zat antibodi.
     Limpa menerima darah dari arteri lienalis dan keluar melalui vena lienalis pada vena porta.Darah dari limpa tidak langsung menuju jantung tetapi terlebih dahulu ke hati.Pembuluh darah masuk ke dan keluar melalui hilus yang berbeda di permukaan dalam.Pembuluh darah itu memperdarhi pulpa sehingga dan bercampur dengan unsur limpa.
d.      Thymus.
     Kelejar timus terletak di dalam torax, kira – kira pada ketinggian bifurkasi trakea.Warnanya kemerah – merahan dan terdiri dari 2 lobus. Pada bayi baru lahir sangat kecil dan beratnya kira – kira 10 gram atau lebih sedikit; ukurannya bertambah pada masa remaja beratnya dari 30 – 40 gram dan kemudian mengkerut lagi.Fungsinya diperkirakan ada sangkutnya dengan produksi antibody dan sebagai tempat berkembangnya sel darah putih.
e.       Bone marrow / sumsum tulang.
     Sumsum tulang (Bahasa Inggris: bone marrow atau medulla ossea) adalah     jaringan lunak yang ditemukan pada rongga interior tulang yang merupakan tempat produksi sebagian besarsel darah baru. Ada dua jenis sumsum tulang: sumsum merah(dikenal juga sebagai jaringan myeloid) dan sumsum kuning. Sel darah merah, keping darah, dan sebagian besar sel darah putihdihasilkan dari sumsum merah.Sumsum kuning menghasilkan sel darah putih dan warnanya ditimbulkan oleh sel-sel lemak yang banyak dikandungnya. Kedua tipe sumsum tulang tersebut mengandung banyak pembuluh dan kapiler darah.Sewaktu lahir, semua sumsum tulang adalah sumsum merah.Seiring dengan pertumbuhan, semakin banyak yang berubah menjadi sumsum kuning. Orang dewasa memiliki rata-rata 2,6 kg sumsum tulang yang sekitar setengahnya adalah sumsum merah. Sumsum merah ditemukan terutama pada tulang pipih seperti tulang pinggul, tulang dada, tengkorak, tulang rusuk, tulang punggung,tulang belikat, dan pada bagian lunak di ujung tulang panjang femur dan humerus.
     Sumsum kuning ditemukan pada rongga interior bagian tengah tulang panjang.Pada keadaan sewaktu tubuh kehilangan darah yang sangat banyak, sumsum kuning dapat diubah kembali menjadi sumsum merah untuk meningkatkan produksi sel darah.
Lokasi-lokasi nodus limfe.
Daerah khusus, tempat terdapat banyak jaringan limfatik adalah palatin (langit mulut) dan tosil faringeal, kelenjar timus, agregat folikel limfatik di usus halus, apendiks dan limfa.
·         Fisiologi sistem limfatik
Fungsi Sistem limfatik sebagai berikut :
a.       Pembuluh limfatik mengumpulkan cairan berlebih atau cairan limfe dari jaringan sehingga memungkinkan aliran cairan segar selalu bersirkulasi dalam jaringan tubuh.
b.      Merupakan pembuluh untuk membawa kembali kelebihan protein didalam cairan  jaringan ke dalam aliran darah.
c.       Nodus menyaring cairan limfe dari infeksi bakteri dan bahan-bahan berbahaya.
d.      Nodus memproduksi limfosit baru untuk sirkulasi.
e.       Pembuluh limfatik pada organ abdomen membantu absorpsi nutrisi yang telah dicerna, terutama lemak.
Mekanisme Sirkulasi Limfatik
        Pembuluh limfatik bermuara kedalam vena-vena besar yang mendekati jantung dan disini terdapat tekanan negatif akibat gaya isap ketika jantung mengembang dan juga gaya isap torak pada gerakan inspirasi.Tekanan timbul pada pembuluh limfatik, seperti halnya pada vena, akibat kontraksi otot otot, dan tekanan luar ini akan mendorong cairan limfe ke depan karena adanya katup yang mencegah aliran balik ke belakang. Juga terdapat tekanan ringan dari cairan jaringan akibat ada rembesan konstan cairan segar dari kapiler-kapiler darah. Apabila terdapat hambatan pada aliran cairan limfe yang melalui sistem limfatik,terjadilah edema, yaitu pembengkakan jaringan akibat adanya kelebihan caiaran yang terkumpul didalamnya. Edema juga bisa terjadi akibat obstruksi vena, karena vena juga berfungsi mengalirkan sebagian cairan jaringan.
2.      Pengertian
            Limfoma non-Hodgkin adalah kanker yang berkembang di kelompok sistem limfatik atau getah bening, yaitu pembuluh dan kelenjar yang tersebar di seluruh tubuh yang berfungsi sebagai bagian dari sistem kekebalan tubuh. Di dalam pembuluh limfatik mengalir cairan bening yang disebut cairan limfe. Cairan ini mengandung salah satu jenis sel darah putih yang disebut limfosit dan berfungsi melawan infeksi. Kelainan limfosit ini merupakan awal mula terjadinya limfoma (kanker kelenjar getah bening). Limfoma dibedakan menjadi 2, yaitu limfoma Hodgkin dan limfoma non-Hodgkin berdasarkan bentuk kelainan sel kanker yang dilihat di bawah mikroskop.
            Limfoma non-Hodgkin yang tidak segera mendapatkan perawatan dapat menyebar ke kelompok sistem limfatik lainnya dan bahkan menyebar juga ke organ tubuh lain, seperti hati, otak, atau sumsum tulang. Kondisi ini sangat berbahaya dan dapat mengancam nyawa.
3.      Penyebab Limfoma Non-Hodgkin
            Penyebab limfoma non-Hodgkin adalah perubahan DNA atau mutasi yang terjadi di dalam salah satu jenis sel darah putih yang disebut limfosit. Namun, penyebab terjadinya mutasi belum diketahui hingga saat ini.
            Umumnya, tubuh akan memproduksi limfosit baru untuk menggantikan limfosit yang telah mati. Namun pada kasus limfoma non-Hodgkin, limfosit terus membelah dan berkembang secara abnormal (tanpa henti), sehingga terjadi penumpukan limfosit di dalam kelenjar getah bening. Kondisi ini menyebabkan terjadinya pembengkakan kelenjar getah bening (limfadenopati) dan tubuh menjadi rentan terhadap infeksi.
Ada dua sel yang menjadi awal munculnya limfoma non-Hodgkin, yaitu:
·         Limfosit B. Sebagian besar limfoma non-Hodgkin muncul dari sel ini. Limfosit B melawan infeksi dengan cara memproduksi antibodi yang mampu menetralisir bakteri atau virus yang berbahaya bagi tubuh.
·         Limfosit T. Beberapa limfosit T bertugas menghancurkan bakteri, virus, atau sel abnormal lain dalam tubuh secara langsung. Sementara limfosit T lainnya membantu mempercepat atau memperlambat aktivitas sel-sel sistem imun yang lain.
Selain itu, ada sejumlah faktor yang mungkin memengaruhi munculnya limfoma non-Hodgkin, di antaranya:
·         Usia. Limfoma non-Hodgkin dapat menyerang siapapun dari berbagai usia, namun risiko kanker ini meningkat seiring bertambahnya usia. Sebagian besar limfoma non-Hodgkin menyerang orang yang berusia 60 tahun ke atas.
·         Sistem kekebalan tubuh lemah. Kondisi ini dipicu oleh berbagai hal, seperti HIV atau konsumsi obat-obatan penurun sistem kekebalan tubuh, misalnya setelah transplantasi organ.
·         Kondisi autoimun, seperti rheumatoid arthritis, lupus, atau sindrom Sjogren.
·         Infeksi virus dan bakteri tertentu. Beberapa infeksi virus atau bakteri tertentu dapat meningkatkan risiko munculnya limfoma non-Hodgkin. Infeksi virus meliputi HIV dan virus Epstein-Barr, sedangkan infeksi bakteri adalah Helicobacter pylori yang menyebabkan tukak lambung.
·         Bahan kimia tertentu, seperti pestisida.
Limfoma non-Hodgkin tidak menular dan tidak diturunkan. Meskipun demikian, ada peningkatan risiko jika anggota keluarga terdekat, seperti orang tua atau saudara kandung pernah menderita limfoma.
Faktor resiko terjadinya LNH adalah ketika sistem kekebalan tubuh menurun akibat kondisi tertentu seperti setelah mengkonsumsi obat-obat imunosupresan atau pasca transplantasi organ, atau bisa juga ketika tubuh mengalami infeksi dari agen-agen infeksius tertentu, seperti virus HIV yang menyebabkan AIDS, kemudian Epstein Barr Virus (EBV), Helicobacter pylori, Hepatitis C dan sebagainya. Selain itu ditemukan juga bahwa orang-orang yang bekerja di perkebunan yang menggunakan bahan pestisida juga beresiko untuk LNH, dan juga bagi orang-orang obesitas dan perokok berat. LNH sering dialami orang-orang usia 60 tahun ke atas namun tidak mustahil juga terjadi pada orang-orang usia lebih muda, dan pria lebih banyak insidennya dari wanita.
4.      Gejala Limfoma Non-Hodgkin
Gejala utama limfoma non-Hodgkin adalah pembengkakan tanpa nyeri di kelenjar getah bening, seperti di leher, ketiak, atau lipat paha. Namun, tidak semua pembengkakan kelenjar getah bening menunjukkan gejala kanker. Kelenjar getah bening juga dapat membengkak akibat respons terhadap infeksi yang dialami tubuh.
Selain pembengkakan kelenjar getah bening, ada beberapa gejala lain limfoma non-Hodgkin yang perlu diwaspadai, antara lain:
·         Berkeringat pada malam hari.
·         Gangguan pernapasan.
·         Perut terasa sakit atau membesar.
·         Anemia.
·         Kulit terasa gatal.
·         Pembesaran kelenjar limfe yang tidak nyeri
·         Splenomegali
·         Dapat timbul komplikasi saluran cerna
·         Nyeri punggung dan leher disertai hiperrefleksia.
·         Kelelahan (keluhan anemia)
·         Demam (38°C 1 minggu tanpa sebab)
·         Penurunan berat badan (10% dalam waktu 6 bulan)

5.      Patofisiologi
 Usia, gender, ras, paparan zat kimia dan radiasi, infeksi virus, penyakit autoimun dan sistem imun yang lemah dapat menyebapkan terjadinya pembesaran kelenjar getah bening. Poliferasi jaringan limfoid yang tidak terkendali karena faktor-faktor risiko diatas menyebapkan terjadinya perubahan rangsangan imunologik yang nantinya akan menimbulkan masalah yaitu adanya ancaman status kesehatan, proses penyakit yang akan mengakibatkan destruksi gangguan saraf serta menimbulkan gangguan metabolisme tubuh.

            Masalah ancaman perubahan status kesehatan akan mengakibatkan fungsi peran pasien berkurang sehingga pola interaksi juga menurun. Penurunan pola interaksi menyebapkan terjadinya perolehan informasi yang kurang mengenai penyakitnya sehingga biasanya pasien akan cemas.
            Proses penyakit yaitu pembesaran kelenjar limfoid akan menyebapkan terjadi gangguan pada saraf yaitu adanya tekanan pada saraf oleh kelenjar yang membesar/tumor sehingga akan memunculkan rasa nyeri.
            Perubahan rangsangan imunologik secara tidak langsung akan mempengaruhi metabolisme tubuh, sehingga ketika rangsangan imunologik berubah menjadi tidak baik, maka akan terjadi gangguan pada metabolisme tubuh. Gangguan metabolisme ini akan menimbulkan perasaan mual, kurang nafsu makan, maupun iritasi lambung karena proses metabolisme yang terganggu. Semua hal tersebut mengakibatkan pemasukan nutrisi untuk tubuh menjadi terganggu yang akan mengakibatkan penurunan berat badan, sehingga memunculkan masalah gangguan nutrisi. 

Pathway





6.      Stadium Penyakit

            Stadium berarti mendefinisikan tingkat perluasan LNH dalam tubuh. Sistem Ann Arbor, yang berpengaruh pada prognosis, biasanya digunakan untuk mendefinisikan stadium. Penetapan stadium penyakit harus selalu dilakukan sebelum pengobatan dan setiap lokasi jangkitan harus didata dengan cermat, digambar secara skematik dan didata tidak hanya jumlah namun juga ukurannya. Hal ini sangat penting dalam menilai hasil pengobatan.


Stadium Berdasarkan Kesepakatan Ann Arbor1
Stadium
Keterangan
I
Pembesaran kelenjar getah bening (KGB) hanya 1 regio
I E: jika hanya terkena 1 organ ekstra limfatik tidak difus / batas tegas
II
Pembesaran 2 regio KGB atau lebih, tetapi masih satu sisi diafragma
II 2: pembesaran 2 regio KGB dalam satu sisi diafragma
II 3: pembesaran 3 regio KGB dalam 1 sisi diafragma
II E: pembesaran 1 regio atau lebih KGB dalam 1 sisi diafragma dan 1 organ ekstra limfatik tidak difus / batas tegas
III
Pembesaran KGB di 2 sisi diafragma
IV
Jika mengenai 1 organ ekstra limfatik atau lebih tetapi secara difus
      Derajat keganasan rendah
·         Kemotreapi obat tunggal atau ganda, peroral
·         Radioterapi paliatif
      Derajat keganasan menengah
·         Stadium I – IIa : radioterapi atau kemoterapi parenteral kombinasi
·         Stadium IIb – IV : kemoterapi parenteral kombinasi, radioterapi berperan untuk tujuan paliatif
      Derajat keganasan tinggi
·         Selalu kemoterapi parenteral kombinasi (lebih agresif)
·         Radioterapi hanya berperan untuk tujuan paliatif.

7. PENATALAKSANAAN
·         Kemoterapi dengan banyak obat (Siklofosfamid, Klorambusil, Rituximab, Fludarabin)
·         Antibiotik untuk mencegah infeksi
·         Transfusi untuk mengatasi anemia
·         Pencangkokan sumsum tulang dapat diusahakan untuk jenis-jenis leukemia tertentu
·         Terapi untuk leukemia kronik mungkin lebih konservatif
·         Terapi yang dijelaskan di atas dapat menimbulkan gejala yaitu peningkatan depresi sumsum tulang lebih lanjut, mual dan muntah
            
               8.      KOMPLIKASI
      Akibat langsung penyakitnya
      Penekanan terhadap organ khususnya jalan nafas, usus dan saraf
      Mudah terjadi infeksi, bisa fatal
      Akibat efek samping pengobatan
      Aplasia sumsum tulang
      Gagal jantung oleh obat golongan antrasiklin
      Gagal ginjal oleh obat sisplatinum
      Neuritis oleh obat vinkristin.


















Daftar Pustaka
Via mee. 2015. Askep LNH. https://plus.google.com/115113433248583221525/posts/eXvq24ycGmk. Diakses 15 Oktober 2018
syandrez. 2011. Limfoma Non Hodgkin. https://sandurezu.wordpress.com/2011/03/24/limfoma-non-hodgkin-lnh/. Diakses 15 Oktober 2018
Ningrum. 2009. Limfoma Non-Hodgkin. https://ningrumwahyuni.wordpress.com/2009/07/28/limfoma-non-hodgkin/. Diakses 15 Oktober 2018 Nara Novietha . 2013. Limfoma non hodgkin. http://narayihaa.wordpress.com/2013/08/11/limfoma-non-hodgkin-2/. Diakses pada 18 Oktober 2018






Senin, 09 Oktober 2017

Keluargaku

Namaku luluk iska aku berasal dari keluarga yang sederhana ibukku seorang rumah tangga tapi dya hebat mampu mendidik ku sampai usia ku 19th ini. Setiap hari ibukku selalu mengingatkan ku tentang kewajiban yang harus ku lakukan setiap hari contohnya seperti hal yg kecil yaitu sholat 5 waktu, kesabaran dalam setiap hariku...ya terkadang aku selalu mengeluh mengeluh dan mengeluh,satu kalimat yang membuatku selalu menumbuh kan semangat yaitu,"sabar nak semua itu akan pasti ada timbal baliknya mngkin sekarang kamu berada di bawah atapi yakinlah bahwa kelak kau akan berada di atas".meski sepele tapi membuat perasaan ini tenang. Dia adalah wanita yang sangat aku banggakan ya meskipun kita dari keluarga sederhana tapi kesederhanaan ini membuat ku selalu bersyukur dengan keadaan.Ayahku.... Dia laki" yang luar biasa mulai dari bangun tidur yang kebiasaannya pergi ke sawah setelah itu berangkat kerja dan sampai sore ayahku baru pulang. Terkadang kita tidak ada waktu untuk berkumpul tapi sedikit waktu kita luangkan untuk bercerita kejadian apa yang telah kita lewati. Kejadian yang unik terkadang terjadi dan membuat humor dalam waktu sedikit yang kita luangkan itu.Aku sayang ayah ibu kalian malaikatku.

Kamis, 09 April 2015

STRUKTUR DAN FUNGSI TOMBOL KEYBOARD

Pada pelatan keyboard ada tombol alphabet dari A-Z yang berfungsi untuk menuliskan huruf A-Z pada komputer.

A. Secara umum, struktur tombol pada keyboard terbagi atas 4, yaitu:
1.      Tombol Ketik (typing keys)
Tombol ketik adalah salah satu bagian dari keyboard yang berisi huruf dan angka serta tanda baca. Secara umum, ada 2 jenis susunan huruf pada keyboard, yaitu tipe QWERTY dan DVORAK. Namun, yang terbanyak digunakan sampai saat ini adalah susunan QWERTY.
2.      Numeric Keypad
Numeric keypad merupakan bagian khusus dari keyboard yang berisi angka dan sangat berfungsi untuk memasukkan data berupa angka dan operasi perhitungan. Struktur angkanya disusun menyerupai kalkulator dan alat hitung lainnya.
3.      Tombol Fungsi (Function Keys)
Tahun 1986, IBM menambahkan beberapa tombol fungsi pada keyboard standard. Tombol ini dapat dipergunakan sebagai perintah khusus yang disertakan pada sistem operasi maupun aplikasi.
4.      Tombol kontrol (Control keys)
Tombol ini menyediakan kontrol terhadap kursor dan layar. Tombol yang termasuk dalam kategori ini adalah 4 tombol bersimbol panah di antara tombol ketik dan numeric keypad, home, end, insert, delete, page up, page down, control (ctrl), alternate (alt) dan escape (esc).
B. Secara kelompok tombol keyboard dapat di jelaskan melalui berikut

Jenis Tombol
Bagian-bagian Tombol
Tombol Modifikasi
Ctrl,Shift, dan Alt
Tombol Pengunci
Caps Lock,Num Lock,dan Scroll Lock
Tombol Navigasi
Up,Down,Right,Left,Page up,page down,Home,End
Tombol Edit
Enter,Back space,Insert,Delete,Tab,space Bar
Tombol Ketik
Semua tombol yang belum di sebutkan di atas

c. Secara fungsional,tombol pada keyboard
Tombol

Alt + F4
Sebagai  jalan  pintas (short cut) untuk menutup program aplikasi  yang sedang aktif
Ctrl+Alt+Del
Untuk menampilkan task manager
F1
Untuk menampilkan menu bantuan
Esc(Escape)
Untuk membatalkan pelaksana,an perintah
Arah (tanda panah)
Untuk memindah kursor
Enter
Untuk berpindah ke baris yg baru dari baris yg lama
Delete
Untk menghapus huruf  yg ada di sebelah kanan kursor

D. Tombol kombinasi antara ctrl +….
      berikut beberapa tombol kombinasi antara ctrl +…
1.    CTRL+A : memblok seluruh karakter.(select all)
2.    CTRL+B : menebalkan karakter terpilih.(bold)
3.    CTRL+C : men-copy (menyalin) karakter/objek terpilih.(copy)
4.    CTRL+D : menggandakan karakter/objek terpilih.(font)
5.    CTRL+E : menjadikan teks rata tengah.(center alignment)
6.    CTRL+F : pencarian kata tertentu dalam dokumen aktif.(find)
7.    CTRL+G : pergi ke halaman tertentu.(go to)
8.    CTRL+H : mengganti (replace) kata tertentu.(replace)
9.    CTRL+I : memiringkan karakter/objek terpilih.(italic)
10.  CTRL+J : teks rata kanan-kiri.(justify)
11.  CTRL+K : menautkan karakter terpilih dengan file lain.(hyperlink)
12.  CTRL+L : teks rata kiri.(left)
13.  CTRL+M : memajukan Left Indent & Hanging Indent.
14.  CTRL+N : membuat dokumen baru.(new)
15.  CTRL+O : membuka dokumen tersimpan.(open)
16.  CTRL+P : mencetak dokumen aktif.(print)
17.  CTRL+R : teks rata kanan.(right)
18.  CTRL+S : menyimpan dokumen aktif.(save)
19.  CTRL+T : memajukan baris kedua suatu paragraf.(left indent)
20.  CTRL+U : garis bawah (underline) karakter terpilih.
21.  CTRL+V : menempelkan hasil copy/cut.(paste)
22.  CTRL+W : menutup jendela aplikasi Word.(close)


Tombol F1:menjalankan fungsi pertolongan yg disediakan pada word.
Tombol F2:memindahkan teks atau objek yg dipilih.
Tombol F3:menjalankan perintah auto text.
Tombol F4:Mengulangi perintah/aktivitas terakhir yang telah dilakukan pada Microsoft Word.
Tombol F5: Menjalankan perintah find and replace atau go to.
Tombol F6:menjalankan perintah other panel.
Tombol F7: memeriksa kesalahan untuk  ketik ejaan dan tata bahasa (word and spelling) dalam            program pengolah kata.
Tombol F8:awal perintah penyorotan atau pemilihan teks atau objek.
 Tombol F9:mengupdate field (mail marge)
Tombol F10: Mengaktifkan/memunculkan Menu Bar pada jendela aplikasi yang sedang aktif.

Tombol F11: digunakan untuk masuk ke mode full screen pada beberapa aplikasi..
Tombol F12: Shortcut untuk "Save As" di Microsoft Word.